(www.pls48.net)Mahbib,NU Online| Jumat, 24 Juni 2016 07:58Khutbah Iالحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُتَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَBulan Ramadhan adalah bulan paling istimewa. Ia menjadi primadona di antara 11 bulan lainnya. Bulan yang Allah jadikan sepuluh hari pertamanya rahmat, sepuluh hari keduanya adalahmaghfirah(pengampunan), dan sepuluh hariketiganyaitqun minan nâr(pembebasan dari api neraka). Allah juga menjanjikan pahala berlipat untuk setiap ibadah dari hari-hari biasanya. Di bulan suci ini pula Al-Qur’an diturunkan atau yang umat Islam kenal dengan peristiwanuzûlul qur’ân.Di luar itu semua, ada pula saat-saat yang begitu menarik umat Islam di bulan Ramadhan, yakni peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang menyandang predikat “lebih baik daripada seribu bulan”. Artinya, seluruh ritual keagamaan dan amal kebaikan dalam semalam setara dengan aktivitas ibadah selama seribulan bulan atau sekitar 83 tahun. Lailatul Qadar hadir tiap Ramadhan. Dan apabila dihitung, ibadah dalam masa Lailatul Qadar dua kali saja sudah melebihi masa batas usia manusianormal. Lantas, betapa banyaknya pahala yang didapat bila seorang ahli ibadah berumur panjang yang menjumpainya hampir setiap tahun.إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah Malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 97: 1-5)Setidaknya ada tiga keutamaan yang terkandung dalam ayat ini. Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan. Ini menjadi karunia spesial bagi umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.Meski keutamaan Lailatul Qadar tergambar jelas dalam Al-Qur’andan sejumlah riwayat, namun hingga kini para ulama masih belum ada kata sepakat tentang kapan persisnya mala istimewa itu jatuh, karena memang tak ada nash yang secara eksplisit merinci tentang hal ini. Sebuah pendapat mengatakan, Lailatul Qadar itu terjadi pada 17 Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada 21 Ramadhan. Ulama lain yakin tepat pada 27 Ramadhan.Dengan berdasar bahwa Rasulullah kian giat beribadah saat sepuluh terakhir Ramadhan,banyak yang berpendapat malam itu jatuh pada sepuluh malam terakhir tersebut. Dan karena Allah dan Rasul-Nya menyukai bilangan ganji maka banyak yang berkeyakinan Lailatul Qadar adalah malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Sementara kapan waktu pasti itu, masih menjadi rahasia. Hanya Allah yang tahu.Hadirin jamaah shalat jumathadâkumullâh,Waktu beribadah tak memiliki batasan waktu. Ibadah dalam pengertian luas bisa dilakukan kapan saja, sepanjang masa.Dzikirullâh(mengingat Allah) diharuskan berlangsung setiap detak jantung dan embusan napas kita. Hanya saja, manusia dengan segenap kelemahannya seringkali melalaikan kewajiban itu. Dan rahmat dan kemurahan-Nya, Allah sampai “berkepentingan” untuk mengiming-imingi hambanya masuk surga dan memberi ancaman neraka agar manusia mengingat pencipta-Nya.Kita melihat, sudah menjadi sebuah kelaziman bahwa Ramadhan yang berlimpah pahalamenjadi bulan perubahan mendadak bagi kebanyakan orang. Suasana religius semakin terasa, tempat-tempat ibadah menjadi kian ramai, lantunan ayat-ayat suci lebih sering terdengar, dan tayaangan religi dan ceramah di televisi menunjukkan peningkatan frekuensi dan jumlahnya.Kondisi ini patut kita syukuri. Di tengah zaman serbasibuk dan modern ini, sebagian orang masihmau meluangkan waktu untuk menjalin hubungan kian dekat dengan Rabb-Nya. Hanya saja, situasi “mendadak” dalam perubahan itu menjadi bahan introspeksi kita. Begitu Ramadhan tiba, masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam aktivitas duniawi berbondong-bondong berburu pahala. Hal ini menjadi cermin bahwa betapa untuk beribadah pun sebagian dari manusia masih menyertakan gairah rasa pamrihnya. Semangat karena inilah waktunya mengeruk ganjaran sebanyak-banyaknya: ibadah sunnah berpahala wajib, ibadah wajib berlipat-lipat ganda pahalanya. Apalagi Lailatul Qadar yang menjanjikanbanjir pahala yang luar biasa.Beribadah dengan tujuan mendapatkan pahala bukanlah tindakan dosa. Namun ketika Ramadhan tak memberi perbaikan apa-apa untuk bulan-bulan setelahnya, hal itu patut disayangkan. Karena dengan sikap itu, seseorang memosisikan Ramadhan selayak jeda “libur kerja”, rutinitas tahunan saat-saat manusia “menghibur diri”. Selepas itu, keadaan kembali seperti sebelumnya.Kabar tentang keutamaan bulan Ramadhan, juga Lailatul Qadar di dalamnya, menjadi pemacu manusia yang cenderung berkarakter manja untuk kembali mendekat kepada Tuhannya. Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan? Ini adalah pukulan telak buat manusia. Hamba yang peka akan segera tersindir. Di balik misteri itu terkandung pelajaran bahwa ibadah mestinya tidak dilakukan dalam satu malam saja. Rahasia itu sesungguhnya adalah semacam pancingan agar hamba lebih sering mendekatkan diri kepada Allah setiap hari di bulan Ramadhan, bahkan setiap hari, jam, menit, dan detik dalam kehidupan kita.Semoga kita termasuk orang-orang yang berkempatan berjumpa Lailatul Qadar dengan aktivitas-aktivitas positif. Dan Ramadhan tahun ini membawa perbaikan ruhani yang mempengaruhi seluruh gerak-gerik kita untuk mencari ridha Allahsubhânahu wataâlâ.Khutbah IIاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًااَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍوَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَان
Ar Roudloh
- Zairuurdhoh
- Ajmal Dikro
- Ya Ilahi
Ar Roudloh
Ajmalndikro
Illahi
Zaiur roudloh
Jumat, 24 Juni 2016
(www.pls48.net)Mahbib,NU Online| Jumat, 24 Juni 2016 07:58Khutbah Iالحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُتَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَBulan Ramadhan adalah bulan paling istimewa. Ia menjadi primadona di antara 11 bulan lainnya. Bulan yang Allah jadikan sepuluh hari pertamanya rahmat, sepuluh hari keduanya adalahmaghfirah(pengampunan), dan sepuluh hariketiganyaitqun minan nâr(pembebasan dari api neraka). Allah juga menjanjikan pahala berlipat untuk setiap ibadah dari hari-hari biasanya. Di bulan suci ini pula Al-Qur’an diturunkan atau yang umat Islam kenal dengan peristiwanuzûlul qur’ân.Di luar itu semua, ada pula saat-saat yang begitu menarik umat Islam di bulan Ramadhan, yakni peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang menyandang predikat “lebih baik daripada seribu bulan”. Artinya, seluruh ritual keagamaan dan amal kebaikan dalam semalam setara dengan aktivitas ibadah selama seribulan bulan atau sekitar 83 tahun. Lailatul Qadar hadir tiap Ramadhan. Dan apabila dihitung, ibadah dalam masa Lailatul Qadar dua kali saja sudah melebihi masa batas usia manusianormal. Lantas, betapa banyaknya pahala yang didapat bila seorang ahli ibadah berumur panjang yang menjumpainya hampir setiap tahun.إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah Malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 97: 1-5)Setidaknya ada tiga keutamaan yang terkandung dalam ayat ini. Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan. Ini menjadi karunia spesial bagi umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.Meski keutamaan Lailatul Qadar tergambar jelas dalam Al-Qur’andan sejumlah riwayat, namun hingga kini para ulama masih belum ada kata sepakat tentang kapan persisnya mala istimewa itu jatuh, karena memang tak ada nash yang secara eksplisit merinci tentang hal ini. Sebuah pendapat mengatakan, Lailatul Qadar itu terjadi pada 17 Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada 21 Ramadhan. Ulama lain yakin tepat pada 27 Ramadhan.Dengan berdasar bahwa Rasulullah kian giat beribadah saat sepuluh terakhir Ramadhan,banyak yang berpendapat malam itu jatuh pada sepuluh malam terakhir tersebut. Dan karena Allah dan Rasul-Nya menyukai bilangan ganji maka banyak yang berkeyakinan Lailatul Qadar adalah malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Sementara kapan waktu pasti itu, masih menjadi rahasia. Hanya Allah yang tahu.Hadirin jamaah shalat jumathadâkumullâh,Waktu beribadah tak memiliki batasan waktu. Ibadah dalam pengertian luas bisa dilakukan kapan saja, sepanjang masa.Dzikirullâh(mengingat Allah) diharuskan berlangsung setiap detak jantung dan embusan napas kita. Hanya saja, manusia dengan segenap kelemahannya seringkali melalaikan kewajiban itu. Dan rahmat dan kemurahan-Nya, Allah sampai “berkepentingan” untuk mengiming-imingi hambanya masuk surga dan memberi ancaman neraka agar manusia mengingat pencipta-Nya.Kita melihat, sudah menjadi sebuah kelaziman bahwa Ramadhan yang berlimpah pahalamenjadi bulan perubahan mendadak bagi kebanyakan orang. Suasana religius semakin terasa, tempat-tempat ibadah menjadi kian ramai, lantunan ayat-ayat suci lebih sering terdengar, dan tayaangan religi dan ceramah di televisi menunjukkan peningkatan frekuensi dan jumlahnya.Kondisi ini patut kita syukuri. Di tengah zaman serbasibuk dan modern ini, sebagian orang masihmau meluangkan waktu untuk menjalin hubungan kian dekat dengan Rabb-Nya. Hanya saja, situasi “mendadak” dalam perubahan itu menjadi bahan introspeksi kita. Begitu Ramadhan tiba, masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam aktivitas duniawi berbondong-bondong berburu pahala. Hal ini menjadi cermin bahwa betapa untuk beribadah pun sebagian dari manusia masih menyertakan gairah rasa pamrihnya. Semangat karena inilah waktunya mengeruk ganjaran sebanyak-banyaknya: ibadah sunnah berpahala wajib, ibadah wajib berlipat-lipat ganda pahalanya. Apalagi Lailatul Qadar yang menjanjikanbanjir pahala yang luar biasa.Beribadah dengan tujuan mendapatkan pahala bukanlah tindakan dosa. Namun ketika Ramadhan tak memberi perbaikan apa-apa untuk bulan-bulan setelahnya, hal itu patut disayangkan. Karena dengan sikap itu, seseorang memosisikan Ramadhan selayak jeda “libur kerja”, rutinitas tahunan saat-saat manusia “menghibur diri”. Selepas itu, keadaan kembali seperti sebelumnya.Kabar tentang keutamaan bulan Ramadhan, juga Lailatul Qadar di dalamnya, menjadi pemacu manusia yang cenderung berkarakter manja untuk kembali mendekat kepada Tuhannya. Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan? Ini adalah pukulan telak buat manusia. Hamba yang peka akan segera tersindir. Di balik misteri itu terkandung pelajaran bahwa ibadah mestinya tidak dilakukan dalam satu malam saja. Rahasia itu sesungguhnya adalah semacam pancingan agar hamba lebih sering mendekatkan diri kepada Allah setiap hari di bulan Ramadhan, bahkan setiap hari, jam, menit, dan detik dalam kehidupan kita.Semoga kita termasuk orang-orang yang berkempatan berjumpa Lailatul Qadar dengan aktivitas-aktivitas positif. Dan Ramadhan tahun ini membawa perbaikan ruhani yang mempengaruhi seluruh gerak-gerik kita untuk mencari ridha Allahsubhânahu wataâlâ.Khutbah IIاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًااَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍوَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَان
(www.pls48.net)Mahbib,NU Online| Jumat, 24 Juni 2016 07:58Khutbah Iالحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُتَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَBulan Ramadhan adalah bulan paling istimewa. Ia menjadi primadona di antara 11 bulan lainnya. Bulan yang Allah jadikan sepuluh hari pertamanya rahmat, sepuluh hari keduanya adalahmaghfirah(pengampunan), dan sepuluh hariketiganyaitqun minan nâr(pembebasan dari api neraka). Allah juga menjanjikan pahala berlipat untuk setiap ibadah dari hari-hari biasanya. Di bulan suci ini pula Al-Qur’an diturunkan atau yang umat Islam kenal dengan peristiwanuzûlul qur’ân.Di luar itu semua, ada pula saat-saat yang begitu menarik umat Islam di bulan Ramadhan, yakni peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang menyandang predikat “lebih baik daripada seribu bulan”. Artinya, seluruh ritual keagamaan dan amal kebaikan dalam semalam setara dengan aktivitas ibadah selama seribulan bulan atau sekitar 83 tahun. Lailatul Qadar hadir tiap Ramadhan. Dan apabila dihitung, ibadah dalam masa Lailatul Qadar dua kali saja sudah melebihi masa batas usia manusianormal. Lantas, betapa banyaknya pahala yang didapat bila seorang ahli ibadah berumur panjang yang menjumpainya hampir setiap tahun.إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah Malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 97: 1-5)Setidaknya ada tiga keutamaan yang terkandung dalam ayat ini. Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan. Ini menjadi karunia spesial bagi umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.Meski keutamaan Lailatul Qadar tergambar jelas dalam Al-Qur’andan sejumlah riwayat, namun hingga kini para ulama masih belum ada kata sepakat tentang kapan persisnya mala istimewa itu jatuh, karena memang tak ada nash yang secara eksplisit merinci tentang hal ini. Sebuah pendapat mengatakan, Lailatul Qadar itu terjadi pada 17 Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada 21 Ramadhan. Ulama lain yakin tepat pada 27 Ramadhan.Dengan berdasar bahwa Rasulullah kian giat beribadah saat sepuluh terakhir Ramadhan,banyak yang berpendapat malam itu jatuh pada sepuluh malam terakhir tersebut. Dan karena Allah dan Rasul-Nya menyukai bilangan ganji maka banyak yang berkeyakinan Lailatul Qadar adalah malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Sementara kapan waktu pasti itu, masih menjadi rahasia. Hanya Allah yang tahu.Hadirin jamaah shalat jumathadâkumullâh,Waktu beribadah tak memiliki batasan waktu. Ibadah dalam pengertian luas bisa dilakukan kapan saja, sepanjang masa.Dzikirullâh(mengingat Allah) diharuskan berlangsung setiap detak jantung dan embusan napas kita. Hanya saja, manusia dengan segenap kelemahannya seringkali melalaikan kewajiban itu. Dan rahmat dan kemurahan-Nya, Allah sampai “berkepentingan” untuk mengiming-imingi hambanya masuk surga dan memberi ancaman neraka agar manusia mengingat pencipta-Nya.Kita melihat, sudah menjadi sebuah kelaziman bahwa Ramadhan yang berlimpah pahalamenjadi bulan perubahan mendadak bagi kebanyakan orang. Suasana religius semakin terasa, tempat-tempat ibadah menjadi kian ramai, lantunan ayat-ayat suci lebih sering terdengar, dan tayaangan religi dan ceramah di televisi menunjukkan peningkatan frekuensi dan jumlahnya.Kondisi ini patut kita syukuri. Di tengah zaman serbasibuk dan modern ini, sebagian orang masihmau meluangkan waktu untuk menjalin hubungan kian dekat dengan Rabb-Nya. Hanya saja, situasi “mendadak” dalam perubahan itu menjadi bahan introspeksi kita. Begitu Ramadhan tiba, masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam aktivitas duniawi berbondong-bondong berburu pahala. Hal ini menjadi cermin bahwa betapa untuk beribadah pun sebagian dari manusia masih menyertakan gairah rasa pamrihnya. Semangat karena inilah waktunya mengeruk ganjaran sebanyak-banyaknya: ibadah sunnah berpahala wajib, ibadah wajib berlipat-lipat ganda pahalanya. Apalagi Lailatul Qadar yang menjanjikanbanjir pahala yang luar biasa.Beribadah dengan tujuan mendapatkan pahala bukanlah tindakan dosa. Namun ketika Ramadhan tak memberi perbaikan apa-apa untuk bulan-bulan setelahnya, hal itu patut disayangkan. Karena dengan sikap itu, seseorang memosisikan Ramadhan selayak jeda “libur kerja”, rutinitas tahunan saat-saat manusia “menghibur diri”. Selepas itu, keadaan kembali seperti sebelumnya.Kabar tentang keutamaan bulan Ramadhan, juga Lailatul Qadar di dalamnya, menjadi pemacu manusia yang cenderung berkarakter manja untuk kembali mendekat kepada Tuhannya. Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan? Ini adalah pukulan telak buat manusia. Hamba yang peka akan segera tersindir. Di balik misteri itu terkandung pelajaran bahwa ibadah mestinya tidak dilakukan dalam satu malam saja. Rahasia itu sesungguhnya adalah semacam pancingan agar hamba lebih sering mendekatkan diri kepada Allah setiap hari di bulan Ramadhan, bahkan setiap hari, jam, menit, dan detik dalam kehidupan kita.Semoga kita termasuk orang-orang yang berkempatan berjumpa Lailatul Qadar dengan aktivitas-aktivitas positif. Dan Ramadhan tahun ini membawa perbaikan ruhani yang mempengaruhi seluruh gerak-gerik kita untuk mencari ridha Allahsubhânahu wataâlâ.Khutbah IIاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًااَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍوَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَان
(www.pls48.net)Mahbib,NU Online| Jumat, 24 Juni 2016 07:58Khutbah Iالحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُتَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَBulan Ramadhan adalah bulan paling istimewa. Ia menjadi primadona di antara 11 bulan lainnya. Bulan yang Allah jadikan sepuluh hari pertamanya rahmat, sepuluh hari keduanya adalahmaghfirah(pengampunan), dan sepuluh hariketiganyaitqun minan nâr(pembebasan dari api neraka). Allah juga menjanjikan pahala berlipat untuk setiap ibadah dari hari-hari biasanya. Di bulan suci ini pula Al-Qur’an diturunkan atau yang umat Islam kenal dengan peristiwanuzûlul qur’ân.Di luar itu semua, ada pula saat-saat yang begitu menarik umat Islam di bulan Ramadhan, yakni peristiwa Lailatul Qadar, sebuah malam yang menyandang predikat “lebih baik daripada seribu bulan”. Artinya, seluruh ritual keagamaan dan amal kebaikan dalam semalam setara dengan aktivitas ibadah selama seribulan bulan atau sekitar 83 tahun. Lailatul Qadar hadir tiap Ramadhan. Dan apabila dihitung, ibadah dalam masa Lailatul Qadar dua kali saja sudah melebihi masa batas usia manusianormal. Lantas, betapa banyaknya pahala yang didapat bila seorang ahli ibadah berumur panjang yang menjumpainya hampir setiap tahun.إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah Malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 97: 1-5)Setidaknya ada tiga keutamaan yang terkandung dalam ayat ini. Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan atau 83 tahun empat bulan. Ini menjadi karunia spesial bagi umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.Meski keutamaan Lailatul Qadar tergambar jelas dalam Al-Qur’andan sejumlah riwayat, namun hingga kini para ulama masih belum ada kata sepakat tentang kapan persisnya mala istimewa itu jatuh, karena memang tak ada nash yang secara eksplisit merinci tentang hal ini. Sebuah pendapat mengatakan, Lailatul Qadar itu terjadi pada 17 Ramadhan. Ada pula yang mengatakan pada 21 Ramadhan. Ulama lain yakin tepat pada 27 Ramadhan.Dengan berdasar bahwa Rasulullah kian giat beribadah saat sepuluh terakhir Ramadhan,banyak yang berpendapat malam itu jatuh pada sepuluh malam terakhir tersebut. Dan karena Allah dan Rasul-Nya menyukai bilangan ganji maka banyak yang berkeyakinan Lailatul Qadar adalah malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Sementara kapan waktu pasti itu, masih menjadi rahasia. Hanya Allah yang tahu.Hadirin jamaah shalat jumathadâkumullâh,Waktu beribadah tak memiliki batasan waktu. Ibadah dalam pengertian luas bisa dilakukan kapan saja, sepanjang masa.Dzikirullâh(mengingat Allah) diharuskan berlangsung setiap detak jantung dan embusan napas kita. Hanya saja, manusia dengan segenap kelemahannya seringkali melalaikan kewajiban itu. Dan rahmat dan kemurahan-Nya, Allah sampai “berkepentingan” untuk mengiming-imingi hambanya masuk surga dan memberi ancaman neraka agar manusia mengingat pencipta-Nya.Kita melihat, sudah menjadi sebuah kelaziman bahwa Ramadhan yang berlimpah pahalamenjadi bulan perubahan mendadak bagi kebanyakan orang. Suasana religius semakin terasa, tempat-tempat ibadah menjadi kian ramai, lantunan ayat-ayat suci lebih sering terdengar, dan tayaangan religi dan ceramah di televisi menunjukkan peningkatan frekuensi dan jumlahnya.Kondisi ini patut kita syukuri. Di tengah zaman serbasibuk dan modern ini, sebagian orang masihmau meluangkan waktu untuk menjalin hubungan kian dekat dengan Rabb-Nya. Hanya saja, situasi “mendadak” dalam perubahan itu menjadi bahan introspeksi kita. Begitu Ramadhan tiba, masyarakat yang sebelumnya tenggelam dalam aktivitas duniawi berbondong-bondong berburu pahala. Hal ini menjadi cermin bahwa betapa untuk beribadah pun sebagian dari manusia masih menyertakan gairah rasa pamrihnya. Semangat karena inilah waktunya mengeruk ganjaran sebanyak-banyaknya: ibadah sunnah berpahala wajib, ibadah wajib berlipat-lipat ganda pahalanya. Apalagi Lailatul Qadar yang menjanjikanbanjir pahala yang luar biasa.Beribadah dengan tujuan mendapatkan pahala bukanlah tindakan dosa. Namun ketika Ramadhan tak memberi perbaikan apa-apa untuk bulan-bulan setelahnya, hal itu patut disayangkan. Karena dengan sikap itu, seseorang memosisikan Ramadhan selayak jeda “libur kerja”, rutinitas tahunan saat-saat manusia “menghibur diri”. Selepas itu, keadaan kembali seperti sebelumnya.Kabar tentang keutamaan bulan Ramadhan, juga Lailatul Qadar di dalamnya, menjadi pemacu manusia yang cenderung berkarakter manja untuk kembali mendekat kepada Tuhannya. Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan? Ini adalah pukulan telak buat manusia. Hamba yang peka akan segera tersindir. Di balik misteri itu terkandung pelajaran bahwa ibadah mestinya tidak dilakukan dalam satu malam saja. Rahasia itu sesungguhnya adalah semacam pancingan agar hamba lebih sering mendekatkan diri kepada Allah setiap hari di bulan Ramadhan, bahkan setiap hari, jam, menit, dan detik dalam kehidupan kita.Semoga kita termasuk orang-orang yang berkempatan berjumpa Lailatul Qadar dengan aktivitas-aktivitas positif. Dan Ramadhan tahun ini membawa perbaikan ruhani yang mempengaruhi seluruh gerak-gerik kita untuk mencari ridha Allahsubhânahu wataâlâ.Khutbah IIاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًااَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍوَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَان
Sabtu, 02 Januari 2016
Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mutakallim Ath-Thusi Asy-Syafi'i. Beliau dilahirkan pada tahun 450 H. Al-Ghazali mempunyai seorang ayah yang soleh sufi menjaga hati dan tangannya untuk melakukan yang halal. Sebelum ayahnya meninggal beliau berwasiat kepada temannya yang sholeh juga sufi untuk menjaga putranya yang bernama abu hamid Al-Ghazali sama saudaranya yang bernama Ahmad Al-Ghazali.
Setelah beranjak beberapa tahun berlalu, uang dan bekal yang dititipkan sang ayah untuk Imam Al-Ghazali dan saudaranya Imam Ahmad Al-Ghazali akhirnya habis juga sehingga mereka berdua terpaksa disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Akkhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan beliau menuju ke negara Syam untuk 'Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid.
Adiknya, Ahmad lebih awal memilih jalan Shufi. Nah, di sini ada sebuah kisah anatara Al-Ghazali sama Ahmad Al-Ghazali. Pernah suatu Al-Ghazali menjadi Imam dalam Shalat berjama'ah sedangkan Ahmad menjadi Ma'mumnya, sampai di pertengahan Ahmad berpisah dari jama'ah (Mufaroqoh) Kakaknya Al-Ghazali. Setelah selesai Shalat Al-Ghazali menanyakan kepada Ahmad kenapa dalam Shalat tadi engkau berpisah dari jama'ahku wahai saudaraku kata Al-Imam Al-Ghazali.
Lantas Ahmad menjawabnya mengapa saya harus berjama'ah dengan seseorang yang berlumuran darah di pundaknya. Akhirnya Al-Ghazali terbayang-bayang dengan menjawabnya: "Wahai saudaraku, engkau memang benar tadi ketika saya jadi Imam, memang saya tidak Khusu' saat Shalat, akan tetapi saya mengingat-ngingat tentang Darah Haid, Darah Nifas dan Istihadoh.
Al-Ghazali waktu itu sudah mempunyai karangan Kitab Al-Basith, Al-Wasith dan Al-Wajiz yang menjelaskan tentang Ilmu Fiqih dalam Madzhab Syafi'i. Ternyata masih kalah hebatnya dengan saudaranya sendiri yang bernama Ahmad Al-Ghazali. Akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan memilih untuk pergi ke Negara Syam.
- Perjalanan Ilmiah Imam Al-Ghazali
Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma'ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah.
Setelah Al-Imam Haromain wafat, Al-Ghazali keluar menuju seorang Mentri. Pada saat itu Nidhomul Mulk mengumpulkan para ahli ilmu dan semua para Ulama' berusaha untuk memusuhi Al-Ghazali. Setelah Al-Ghazali menjelaskan ilmunya yang didapatkan dari Guru-Gurunya, akhirnya semua Ulama' mengerti keutamaan Al-Ghazali. Hingga akhirnya Al-Ghazali diperintahkan pergi ke Madrasah Nidhomiyah di Baghdad pada Tahun 484 Hijriyah. Dan Al-Ghazali mengajar di sana hingga semua orang terheran dengan kepiawaian Al-Ghazali dalam mengajar dan berargumen, serta mempunyai keutamaan yang indah dan fasih lisannya semua orang mencitainya.
- Komentar Ulama' Tentang Al-Ghazali
Al-Imam Tajuddin As-Subuki berkata: "Abu Hamid Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam (Hujjah bagi Islam)".
Al-Imam Haromain berkata: "Al-Ghazali ilmunya seperti lautan".
Al-Imam Ibnu Najar berkata: "Abu Hamid adalah Imamnya para Ahli Fiqih sekaligus pendidiknya para ummat".
Al-Imam Muhammad Bin Yahya salah satu muridnya Al-Ghazali juga berkata: "Al-Ghazali adalah Imam Syafi'i kedua".
Al-Hafidz Ibnu Katsir juga berkata: "Al-Ghazali adalah paling cerdasnya Ulama' di segala bidang keilmuan dan Pimpinan Para Pemuda".
Al-Hafidz Ibnul Jauzi dari kalangan Ulama' Hanbali juga berkata: "Semua orang telah menulis karangan dari kalamnya (perkataan) Al-Ghazali".
- Karangan kitab Al-Imam Al-Ghazali
1. Ihya' Ulumuddin
2. Al-Munqid Mina Ad-Dholal
3. Al-Iqtisod Fi Al-I'tiqod
4. Mizan Al-Amal
5. Fadhoih Al-Bathiniyah
6. Al-Qistos Al-Mustaqim
7. Faishol At-Tafarruq Bayna Al-islam Wa Az-Zindiqoh
8. Tahafut Al-Falasifah
9. Mi'yar Al-'ilm
10. Al-Maqshod Al-Asna Fi Syarh Asma'ul husna
11. Al-bhasith
12. Al-Wasith
13. Al-Wajiz
14. Al-Mustashfa
15. Al-Mankhul
16. Kimiya As-Sa'adah
17. Jawahir Al-Qur'an
18. Yaqut Atta'wil Fi tafsir Attanzil
19. Minhaj Al-'Abidin
20. Al-Arba'in Fi usuluddin
21. Maskatul Anwar
22. Ad-duror Al-fakhiroh Fi Kasfi 'ulum Al-akhiroh
23. 'Iljam Al-Awam 'an 'ilmi Al-Kalam
24. Bidayah Al-Hidayah
- Wafatnya Al-Ghazali
Setelah Al-Ghazali melanjutkan lagi perjalanannya ke Negeri Syam dan Berziarah ke Baitul Maqdis sudah 10 tahun Al-Ghazali menetap di sana dan berpindah-pindah di beberap Masjid kemudian bertempat di suatu gunung untuk melatih dirinya agar tidak mengikuti hawa nafsunya dan berusaha untuk jihad di jalan Allah, selalu beribadah dengan ketaatan sampai Al-Ghazali menjadi Ulama' terkemuka di masanya dan mendapatkan keberkahan yang melimpah sehingga sampai di jalan keridoan Ilahi.
Setelah Al-Ghazali kembali ke Baghdad untuk membahas tentang ilmu Hakikat, ahkirnya Al-Ghazali mengarang sebuah kitab yang berjudul 'Ihya' Ulumuddin. Dalam kitab 'Ihya' 'Ulumuddin terdapat Hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat banyak sekali sehingga Al-Ghazali jika mau meletakKan Hadist Nabi SAW dicium dulu Hadist itu, jika Hadist itu harum maka Al-Ghazali menulisnya dalam kitab 'Ihya' 'Ulumuddin, jika tidak maka Al-Ghazali tidak menulisnya.
Kemudian Al-Ghazali melanjutkan ke Khurosan dan mengajar di Madrasah Nidzomiyah Naysaburi di masa yang sebentar setelah Al-Ghazali mengajar di Madrasah Nidzomiyah akhirnya kembali ke negeri kelahirannya yaitu Ath-Thusi dan belajar dari beberapa Ulama' Fiqih, beliau juga selalu menjaga waktunya untuk menghatamkan Al-Qur'an dan selalu berpuasa dan Istiqomah dalam semua bentuk ibadahnya. Imam Al-Ghazali wafat di negeri kelahirannya Ath-Thusi pada hari senin 14 Jumadil Akhir pada tahun 505 H. dan dimakamkan di Pemakaman Ath-Thobron.
Referensi :
1. Al-Munqid Min Adh-Dholal karya Al-Ghazali (Hal. 59-65).
2. Al-Muntadzim Karya Ibnul Jauzi (Juz 9 hal. 168).
3. Siyar A'lam An-Nubala' Kayra Imam Adz-Dzahabi (Juz 19 hal. 322).
4. Thobaqot Asy-Syafi'iyah Al-Kubro Karya Taqiyuddin As-Subuki (Juz 6 hal. 191).
5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah Karya Imam Ibnu Katsir (Juz 12 hal. 173).
6. Wafiyat Al-A'yan karya As-Shofadi (Juz 4 hal. 416).
7. Mir'ah Al-Jinan Karya Al-Yafi'i (Juz 3 hal. 145).
8. Thobaqot Ash-Shufiyah Karya Al-Manawi (Juz 2 hal. 291).
9. Syadzrat Adz-Dzahab karya Ibnu Al-'Imad Al-Hanbali (Juz 4 hal. 13).
10. Al-A'lam karya Az-Zarkali (Juz 7 hal. 22).
11. Muqoddimah Ihya' Ulumiddin
Setelah beranjak beberapa tahun berlalu, uang dan bekal yang dititipkan sang ayah untuk Imam Al-Ghazali dan saudaranya Imam Ahmad Al-Ghazali akhirnya habis juga sehingga mereka berdua terpaksa disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Akkhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan beliau menuju ke negara Syam untuk 'Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid.
Adiknya, Ahmad lebih awal memilih jalan Shufi. Nah, di sini ada sebuah kisah anatara Al-Ghazali sama Ahmad Al-Ghazali. Pernah suatu Al-Ghazali menjadi Imam dalam Shalat berjama'ah sedangkan Ahmad menjadi Ma'mumnya, sampai di pertengahan Ahmad berpisah dari jama'ah (Mufaroqoh) Kakaknya Al-Ghazali. Setelah selesai Shalat Al-Ghazali menanyakan kepada Ahmad kenapa dalam Shalat tadi engkau berpisah dari jama'ahku wahai saudaraku kata Al-Imam Al-Ghazali.
Lantas Ahmad menjawabnya mengapa saya harus berjama'ah dengan seseorang yang berlumuran darah di pundaknya. Akhirnya Al-Ghazali terbayang-bayang dengan menjawabnya: "Wahai saudaraku, engkau memang benar tadi ketika saya jadi Imam, memang saya tidak Khusu' saat Shalat, akan tetapi saya mengingat-ngingat tentang Darah Haid, Darah Nifas dan Istihadoh.
Al-Ghazali waktu itu sudah mempunyai karangan Kitab Al-Basith, Al-Wasith dan Al-Wajiz yang menjelaskan tentang Ilmu Fiqih dalam Madzhab Syafi'i. Ternyata masih kalah hebatnya dengan saudaranya sendiri yang bernama Ahmad Al-Ghazali. Akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan memilih untuk pergi ke Negara Syam.
- Perjalanan Ilmiah Imam Al-Ghazali
Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma'ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah.
Setelah Al-Imam Haromain wafat, Al-Ghazali keluar menuju seorang Mentri. Pada saat itu Nidhomul Mulk mengumpulkan para ahli ilmu dan semua para Ulama' berusaha untuk memusuhi Al-Ghazali. Setelah Al-Ghazali menjelaskan ilmunya yang didapatkan dari Guru-Gurunya, akhirnya semua Ulama' mengerti keutamaan Al-Ghazali. Hingga akhirnya Al-Ghazali diperintahkan pergi ke Madrasah Nidhomiyah di Baghdad pada Tahun 484 Hijriyah. Dan Al-Ghazali mengajar di sana hingga semua orang terheran dengan kepiawaian Al-Ghazali dalam mengajar dan berargumen, serta mempunyai keutamaan yang indah dan fasih lisannya semua orang mencitainya.
- Komentar Ulama' Tentang Al-Ghazali
Al-Imam Tajuddin As-Subuki berkata: "Abu Hamid Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam (Hujjah bagi Islam)".
Al-Imam Haromain berkata: "Al-Ghazali ilmunya seperti lautan".
Al-Imam Ibnu Najar berkata: "Abu Hamid adalah Imamnya para Ahli Fiqih sekaligus pendidiknya para ummat".
Al-Imam Muhammad Bin Yahya salah satu muridnya Al-Ghazali juga berkata: "Al-Ghazali adalah Imam Syafi'i kedua".
Al-Hafidz Ibnu Katsir juga berkata: "Al-Ghazali adalah paling cerdasnya Ulama' di segala bidang keilmuan dan Pimpinan Para Pemuda".
Al-Hafidz Ibnul Jauzi dari kalangan Ulama' Hanbali juga berkata: "Semua orang telah menulis karangan dari kalamnya (perkataan) Al-Ghazali".
- Karangan kitab Al-Imam Al-Ghazali
1. Ihya' Ulumuddin
2. Al-Munqid Mina Ad-Dholal
3. Al-Iqtisod Fi Al-I'tiqod
4. Mizan Al-Amal
5. Fadhoih Al-Bathiniyah
6. Al-Qistos Al-Mustaqim
7. Faishol At-Tafarruq Bayna Al-islam Wa Az-Zindiqoh
8. Tahafut Al-Falasifah
9. Mi'yar Al-'ilm
10. Al-Maqshod Al-Asna Fi Syarh Asma'ul husna
11. Al-bhasith
12. Al-Wasith
13. Al-Wajiz
14. Al-Mustashfa
15. Al-Mankhul
16. Kimiya As-Sa'adah
17. Jawahir Al-Qur'an
18. Yaqut Atta'wil Fi tafsir Attanzil
19. Minhaj Al-'Abidin
20. Al-Arba'in Fi usuluddin
21. Maskatul Anwar
22. Ad-duror Al-fakhiroh Fi Kasfi 'ulum Al-akhiroh
23. 'Iljam Al-Awam 'an 'ilmi Al-Kalam
24. Bidayah Al-Hidayah
- Wafatnya Al-Ghazali
Setelah Al-Ghazali melanjutkan lagi perjalanannya ke Negeri Syam dan Berziarah ke Baitul Maqdis sudah 10 tahun Al-Ghazali menetap di sana dan berpindah-pindah di beberap Masjid kemudian bertempat di suatu gunung untuk melatih dirinya agar tidak mengikuti hawa nafsunya dan berusaha untuk jihad di jalan Allah, selalu beribadah dengan ketaatan sampai Al-Ghazali menjadi Ulama' terkemuka di masanya dan mendapatkan keberkahan yang melimpah sehingga sampai di jalan keridoan Ilahi.
Setelah Al-Ghazali kembali ke Baghdad untuk membahas tentang ilmu Hakikat, ahkirnya Al-Ghazali mengarang sebuah kitab yang berjudul 'Ihya' Ulumuddin. Dalam kitab 'Ihya' 'Ulumuddin terdapat Hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat banyak sekali sehingga Al-Ghazali jika mau meletakKan Hadist Nabi SAW dicium dulu Hadist itu, jika Hadist itu harum maka Al-Ghazali menulisnya dalam kitab 'Ihya' 'Ulumuddin, jika tidak maka Al-Ghazali tidak menulisnya.
Kemudian Al-Ghazali melanjutkan ke Khurosan dan mengajar di Madrasah Nidzomiyah Naysaburi di masa yang sebentar setelah Al-Ghazali mengajar di Madrasah Nidzomiyah akhirnya kembali ke negeri kelahirannya yaitu Ath-Thusi dan belajar dari beberapa Ulama' Fiqih, beliau juga selalu menjaga waktunya untuk menghatamkan Al-Qur'an dan selalu berpuasa dan Istiqomah dalam semua bentuk ibadahnya. Imam Al-Ghazali wafat di negeri kelahirannya Ath-Thusi pada hari senin 14 Jumadil Akhir pada tahun 505 H. dan dimakamkan di Pemakaman Ath-Thobron.
Referensi :
1. Al-Munqid Min Adh-Dholal karya Al-Ghazali (Hal. 59-65).
2. Al-Muntadzim Karya Ibnul Jauzi (Juz 9 hal. 168).
3. Siyar A'lam An-Nubala' Kayra Imam Adz-Dzahabi (Juz 19 hal. 322).
4. Thobaqot Asy-Syafi'iyah Al-Kubro Karya Taqiyuddin As-Subuki (Juz 6 hal. 191).
5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah Karya Imam Ibnu Katsir (Juz 12 hal. 173).
6. Wafiyat Al-A'yan karya As-Shofadi (Juz 4 hal. 416).
7. Mir'ah Al-Jinan Karya Al-Yafi'i (Juz 3 hal. 145).
8. Thobaqot Ash-Shufiyah Karya Al-Manawi (Juz 2 hal. 291).
9. Syadzrat Adz-Dzahab karya Ibnu Al-'Imad Al-Hanbali (Juz 4 hal. 13).
10. Al-A'lam karya Az-Zarkali (Juz 7 hal. 22).
11. Muqoddimah Ihya' Ulumiddin
Dialah Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mutakallim Ath-Thusi Asy-Syafi'i. Beliau dilahirkan pada tahun 450 H. Al-Ghazali mempunyai seorang ayah yang soleh sufi menjaga hati dan tangannya untuk melakukan yang halal. Sebelum ayahnya meninggal beliau berwasiat kepada temannya yang sholeh juga sufi untuk menjaga putranya yang bernama abu hamid Al-Ghazali sama saudaranya yang bernama Ahmad Al-Ghazali.
Setelah beranjak beberapa tahun berlalu, uang dan bekal yang dititipkan sang ayah untuk Imam Al-Ghazali dan saudaranya Imam Ahmad Al-Ghazali akhirnya habis juga sehingga mereka berdua terpaksa disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Akkhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan beliau menuju ke negara Syam untuk 'Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid.
Langganan:
Komentar (Atom)
Almuqtasidah Group "Aku Berselimutkan Debu"
Album Sholawat "Aku berselimutkan Debu" ini dikeluarkan oleh group sholawat Al Muqtashidah. Album ini merupakan album terbaru mer...
