Ar Roudloh

  • Zairuurdhoh
  • Ajmal Dikro
  • Ya Ilahi

Ar Roudloh

Ajmalndikro Illahi Zaiur roudloh

Senin, 09 September 2013

KH abd Faqih Mangkat


Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, pengasuh Pesantren Langitan, Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, KH Abdullah Faqih (82) telah pergi meninggalkan ribuan santri dan pengagumnya pada Rabu (29/2) pukul 19.00 WIB. “Abah (ayah) meninggal dunia karena memang sudah `sepuh` (sangat tua), namun ayah memang sempat masuk Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya pada 2 Oktober 2011 hingga sekitar seminggu,” ucap KH Ubaidillah Faqih, putra almarhum KH Abdullah Faqih.
Salah seorang dari 10 putra almarhum itu menceritakan, ayahandanya menjalani perawatan di Graha Amerta setelah mengalami stroke ringan akibat jatuh, namun setelah membaik akhirnya menjalani perawatan di rumah hingga meninggal dunia pada 29 Februari 2012. Para wartawan yang ikut menjadi saksi saat-saat melambungnya nama “guru spiritual” almarhum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada awal era reformasi (1998) itu akan tahu betapa almarhum tidak menyukai publikasi.

“Kami menerima pesan dari kiai, kiai tidak bersedia menerima wartawan,” ujar santri almarhum bila ada wartawan yang datang untuk mewawancarainya.
Ya, nama Kiai Abdullah Faqih mencuat menjelang Sidang Umum MPR 1998, terutama berkaitan dengan pencalonan Gus Dur sebagai presiden, sehingga para wartawan pun memburunya. Saat itu, suara kalangan “nahdliyin” (warga NU) terbelah, ada yang mendukung pencalonan Gus Dur dan ada yang sebaliknya.
Dalam situasi seperti itu, sejumlah kiai sepuh NU mengadakan pertemuan di Langitan, sehingga muncul istilah “Poros Langitan” yang fatwanya sangat berpengaruh pada pencalonan Gus Dur. Pesan Kiai Abdullah Faqih untuk Gus Dur itu dibawa KH Hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU). Pesannya, “Kalau memang Gus Dur maju, ulama akan mendoakan”. Restu Kiai Faqih itu membuat Gus Dur meneteskan air mata dan memeluk KHA Hasyim Muzadi.
“Sampaikan salam hormat saya kepada Kiai (Faqih). Katakan, Abdurrahman sampai kapan pun tetap seorang santri yang patuh kepada ucapan kiai,” tutur Gus Dur kepada Hasyim Muzadi.
Namun, para wartawan tidak pernah menerima cerita itu langsung dari Kiai Faqih, karena kiai yang mengasuh lebih dari 3.000 santri itu memang tidak suka publikasi. Di mata para santri, “sang guru” memang sederhana, istiqomah, dan alim. Kesederhanaan itu terlihat dari tempat tinggalnya yang terbuat dari kayu berwarna janur kuning dengan ukuran sekitar 7 x 3 meter dan di dalamnya ada seperangkat meja kursi kuno dan dua lemari berisi kitab-kitab, meski anak-anak almarhum tinggal di rumah berlantai dua.
Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan, Desa Widang, Tuban. Saat kecil, ia lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi`i Zahid. Ketika beranjak remaja, Kiai Faqih “nyantri” pada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Faqih juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, untuk belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.
Setelah itu, Kiai Faqih kembali ke Pesantren Langitan yang didirikan pada l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang. Pesantren Langitan yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang (dekat Babat Lamongan) itu dikenal sebagai pesantren ilmu alat.
Para generasi pertama NU pernah belajar di Langitan, di antaranya KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayahnya KH As`ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayahnya KH Ahmad Shiddiq).
Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.
Meski tetap mempertahankan nilai-nilai salaf, Pesantren Langitan di era Kiai Faqih lebih terbuka. Ia mendirikan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Ada juga badan usaha milik pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel.
Kiai bersahaja itu juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat, di antaranya ia mengirim dai ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Selain itu, Kiai Faqih juga menginstruksikan para santrinya Shalat Jumat di kampung-kampung, lalu membuka pengajian umum di pesantren di dekatnya.
Sosok teladan
Di balik kesederhanaan dan sikap anti-publikasi, Kiai Abdullah Faqih juga merupakan sosok teladan yang mementingkan masyarakat luas. Untuk kepentingan masyarakat itulah, Kiai Faqih pernah meminta Gus Dur mencium tangan pamannya KH Yusuf Hasyim yang saat itu berseberangan dengannya. Gus Dur pun patuh kepada “sang guru”.
Tidak jauh dari itu, Kiai Faqih jugalah yang mengajak Gus Dur dan KHA Hasyim Muzadi untuk bersalaman ketika keduanya “bermasalah”. Sikap Kiai Faqih yang sederhana, anti-publikasi, dan juga suka damai itu diakui Ketua Umum DPP PKNU H Choirul Anam yang akrab disapa Cak Anam.
“Saya sendiri sempat menjenguk beliau pada hari Ahad (26/2) lalu,” kata salah seorang tokoh Ansor NU Jatim yang dikenal sebagai “orang dekat” Kiai Abdullah Faqih itu.
Pada pertemuan terakhir itu (26/2), katanya, dirinya sempat bertemu selama lima menit, namun dirinya sempat tertegun karena Kiai Abdullah Faqih sempat menangis.
“Almarhum mengatakan kamu ke sini (meminta untuk mendekat). Beliau meminta saya untuk berjuang terus. Saya izinkan kamu, saya ridhoi, kamu berjuang terus, jangan khilaf, ajak bersatu semua kawan,” katanya, mengutip pesan almarhum.
Ditanya tentang sosok Kiai Abdullah Faqih, Cak Anam yang juga mantan wartawan itu menilai Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok yang jarang berbicara tentang kedudukan (jabatan) dan “dunia” (uang).
“Beliau selalu mementingkan kejujuran dan moralitas. Kalau mendapat sumbangan dari orang, beliau selalu memilah, menyisihkan, dan akhirnya dikembalikan kepada kepentingan masyarakat,” katanya.
Bahkan, kata penulis buku “babon” tentang NU itu, Kiai Abdullah Faqih sering menyumbang kegiatan PKNU dengan uang pribadi. “Ketika PKNU akan bermuktamar, beliau bertanya apa sudah siap? Beliau pun menyerahkan sumbangan,” katanya.
Oleh karena itu, kepergian Kiai Abdullah bukan hanya PKNU yang kehilangan. “Bukan hanya PKNU atau NU yang kehilangan beliau, tapi bangsa ini kehilangan sosok teladan yang lebih memikirkan orang lain daripada dirinya,” katanya.
Rasa kehilangan juga dilontarkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Ia menyatakan wafatnya KH Abdullah Faqih merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. “Wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi kita, bukan hanya NU, tapi juga bangsa Indonesia,” katanya.
Hal senada juga diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan, Indonesia kehilangan salah satu tokoh penyangga kekuatan spiritual dengan wafatnya KH Abdullah Faqih.
“Kiai Faqih merupakan salah satu penyangga kekuatan spiritual bangsa Indonesia. Saat negara mengalami berbagai krisis, beliau menggerakkan istighatsah dan berbagai wirid atau amalan keagamaan untuk memohon pertolongan Allah,” katanya.
Di lingkungan NU, kata Khofifah, Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok kiai sepuh yang menjadi panutan, sedangkan di pentas nasional Kiai Faqih mulai dikenal dan didengar serta diperhatikan berbagai pemikiran kebangsaannya saat awal reformasi.
“Gus Dur sendiri sering menjadikan fatwa Kiai Faqih sebagai referensi gerakan reformasi, misalnya saat mendirikan PKB dan saat mengambil keputusan pencalonan sebagai presiden,” katanya.

antaranews | fimadani

Sabtu, 13 April 2013

  • Tradisi Tingkepan
Assalamu’alaikum Wr. Wb.  KH. Qohwanul Adib yang Kami hormati, Doa apa yang dibaca saat menghelat acara Tingkepan? Dan pada saat kandungan berumur berapa, waktu yang tepat untuk menyelenggarakan tingkepan?
Rustam,  Surabaya
Problem Solving
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Bapak Rustam yang Kami hormati, Walimatul Hamli -atau dalam terminologi Jowo disebut Tingkepan- merupakan tradisi jawa yang telah turun-menurun diselenggarakan dengan maksud berbagi (bersedekah) dengan sanak saudara dan tetangga, serta berdoa agar kelak Buah Hati yang sangat didamba dapat terlahir dengan selamat, menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah, dianugerahi rizqi yang
Tradisi Tingkepan
Tradisi Tingkepan
halal dan lapang, dikaruniai umur panjang barokah, serta selamat Dunia dan Akhirat.
Walimatul Hamli atau Tingkepan biasanya dihelat pada saat kandungan berumur 120 hari atau 4 bulan (Ngupati, jawa), karena pada masa-masa itu embrio (janin) dalam kandungan mulai diberi Ruh dan juga ditentukan Rizqi dan ajalnya, serta diputuskan nasibnya, sebagai orang yang beruntung atau orang yang celaka. Oleh karena itu, moment tersebut dinilai sangat tepat oleh kebanyakan orang untuk mendoakan calon anaknya, sehingga mereka menghelat ritual tingkepan, dengan maksud supaya segala kebaikan yang diharapkan terlimpah kepada sang buah hati, dapat di-ijabahi oleh Dzat yang Maha Kuasa, Allah Azza Wa Jalla.
Selain Ngupati (Walimatul Hamli disaat Janin berumur 4 bulan), Walimatul Hamli oleh sebagian besar masyarakat terkadang juga dirayakan ketika Kandungan memasuki usia 7 bulan (mitoni, jawa). Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT dalam surat Al A’raf ayat 189:
 فَلَماّ تَغَشّاهَا حَمَلَتْ حَمْلاً خَفِيفاً فَمَرّتْ بِهِ فَلَمّآ أَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّهَ رَبَّـهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحاً لَّنَكُونَنّ مِنَ الشّاكِرِينَ.
 (الأعرف: 189)
Artinya: Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala merasa dia berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Tuhan-nya, seraya berkata “Sesungguhnya jika Engkau memberi anak yang sempurna, tentulah Kami termasuk orang – orang yang bersyukur”.  
(QS: Al A’raf, 189)

Sementara, tentang teknis pelaksaannya tidak jauh beda dengan Walimatul Hamli 4 bulan (Ngupati), yakni Bersedekah dan Berdoa.
Adapun doa yang dibaca saat Walimatul Hamli adalah sebagai berikut:
1.  Doa Walimah Hamli 4 Bulan (Ngupati)
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله وبالله ومن الله والى الله ولا غالب الا الله ولايفوته هارب من الله وهو الحي القيوم نعيذ هذا الحمل البالغ أربعة أشهر بالله اللطيف الحفيظ الذي لااله الاهو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم ونعيذه بكلمات الله التامة وبأسمائك المعظمة وآياته الكريمة وحروفها المباركة من شر الانس والجان ومن مكر الليل والنهار والاواني ومن جميع الفتن والبلايا والعصيان ومن شر النفاثات في العقد ومن شر حاسد اذا حسد. اللهم اجعله ولدا صالحا كريما كاملا عاقلا عليما نافعا مباركا حليما. اللهم زينه بزينة الاخلاق الكريمة والصورة الجميلة ذي الهيبة والهيئة المليحة والروح على الفطرة الجزيلة. اللهم اكتبه في زمرة العلماء الصالحين وحملة القرآن العاملين وارزقه عملا يقربه الى الجنة مع النبيين يااكرم الاكرمين ويا خير الرازقين. اللهم ارزقه وامه في طاعتك المقبولة وذكرك وشكرك وحسن عبادتك المرضية واحفظه من السقط والنقص والعلة والكسل والخلقة المذمومة حتى وضعته امه على صحة وعافية وسهولة ويسرة من غير مرض وتعب وعسرة بشفاعة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم
2.  Doa Walimah Hamli 7 Bulan (Mitoni)
اللهم سلمنا من آفات الدنيا وعذاب الآخرة  وفتنتهما وفضيحتهما انك على كل شيء قدير. أللهم سلم جنينها وعاف ما في بطنها مما لانرجوه ونخاف. سلام على نوح في العالمين انا كذالك نجزي المحسنين. أللهم انا نسألك بجاه سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ان نصلي عليه وان تسلم جنينها من الآفات والعاهات والامراض وعن ام ملدن برحمتك ياأرحم الراحمين ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما. أللهم يا مبارك بارك لنا في العمر والرزق والدين والدنيا والولد. اللهم ياحافظ احفظ ولدي ما دام في بطن امه واشفه مع امه انت الشافي لا شفاء الا شفائك ولاتقدره سقما ولامحروما. أللهم صور ما في بطنها صورة حسنة جميلة كاملة وثبت في قلبه ايمانا بك وبرسولك في الدنيا والآخرة. أللهم طول عمره وصحح جسده وحسن خلقه وأفصح لسانه وأحسن صوته لقراءة القرآن العظيم والحديث بجاه سيد المرسلين.
Sumber : Majalah Langitan, PP. Langitan – Tuban, Edisi 47

Kamis, 28 Maret 2013

meneladani rumput

Meneladani Rumput

MENELADANI RUMPUT
Oleh : KH. Abdullah Habib Faqih

Bila kamu memperhatikan kehidupan rumput di halaman pondokmu atau di sawah belakang sekolahanmu, maka kamu akan dapatkan padanya keteladanan daya survive yang tinggi.

Rumput mengajarkan banyak keteladanan, utamanya mental ketahanan dan kesuksesan. Setiap hari ia diinjak-injak, disabit, bahkan dicabut dari tanah, tapi esok harinya tumbuh kembali. Rumput tidak akan mati hanya dengan sekali injak, bahkan ribuan kaki menginjaknya setiap hari ia akan tetap hidup dan tetap bangkit. Itulah mental pemenang.

Seorang santri yang ingin sukses dalam menuntut ilmu harus memiliki ketahanan mental dalam menghadapi berbagai macam cobaan, ujian, rintangan, halangan, gangguan bahkan jutaan problem yang selalu datang. Ia tetap tersenyum meskipun merasa tidak nyaman, jiwanya tertekan atau bahkan tidak krasan. Ia selalu bisa menghibur diri sendiri. Ia tetap bergembira saat diterpa rindu pada orang tua. Ia bisa bangkit dari tekanan sumpek yang menghimpitnya. Ia adalah rumput yang akan selalu tumbuh meskipun selalu diinjak.

Semangat hidup rumput adalah semangat perjuangan. Dan hakikat hidupmu adalah berjuang, berjuang untuk selau eksis sampai kamu meraih kesuksesan. Karena kesuksesan tidak akan mudah untuk digapai, maka kamu harus terus berjuang untuk tetap eksis di pondok ini. Karena dengan eksis-lah kamu bisa tetap belajar memahami banyak hal untuk menjawab tantangan zaman.

Kehidupan akan terus mengalami perubahan dan banyak tantangan, karena itu kamu harus memiliki mental ketahanan serta ketahanan mental dalam menghadapinya. Bila hanya karena satu cobaan, kamu gagal untuk tetap eksis di pondok ini, maka sama artinya kamu gagal memiliki modal ketahanan mental untuk menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya di masa mendatang.

Allah Swt. mendatangkan ujian dan cobaan di sela mondokmu dalam rangka untuk menolongmu, untuk mempercepat ekselerasi dan laju gerakmu dalam meraih cita-citamu. Tanpa ada ujian dan cobaan tak akan ada kenaikan level keimanan, keilmuan, kepribadian dan ketangguhan yang bisa kamu raih.

Yang harus kamu lakukan adalah meneladani rumput yang kokoh dan tahan terhadap jutaan injakan. Kamu harus belajar darinya bagaimana bisa tabah menghadapi ujian, berjiwa sumeleh dengan kenyataan, selalu berlatih untuk tetap tumbuh dan berkembang pada kondisi sesulit apa pun.

Sukses memang sulit, tiket ke surga memang mahal. Hanya orang-orang yang eksis -yang mau bertahan, rela menderita, dan siap bersusah payah- yang akan meraih cita-cita dan menggapai kesuksesan dunia akhirat.

     Maka, bersemangatlah wahai santri untuk tetap memiliki ketahanan dalam menghadapi ujian dan cobaan di pondok ini. Berjuanglah untuk selalu ikhlas merelakan masa mudamu, mendermakan waktu bersenang-senangmu, menukarkan kebahagianmu berada di rumah dengan tetap eksis menuntut ilmu di pondok ini. Komitmenlah menjual masa-masa indahmu dengan membeli masa keabadianmu di sisi Allah Swt.


Almuqtasidah Group "Aku Berselimutkan Debu"

 Album Sholawat "Aku berselimutkan Debu" ini dikeluarkan oleh group sholawat Al Muqtashidah. Album ini merupakan album terbaru mer...